Downtrading Pariwisata: Pertumbuhan Ekonomi 2026 Terancam?
Musim ramai tidak selalu berarti musim untung. Di balik destinasi yang penuh dan okupansi yang tampak pulih, wisatawan nusantara diam-diam menurunkan kelas belanjanya — menginap lebih singkat, memilih akomodasi lebih murah, dan menahan pengeluaran di luar kebutuhan pokok perjalanan - Downtrading
ALL NEWSOPINION


Perekonomian Indonesia bertumpu pada satu pilar utama: konsumsi rumah tangga, yang menopang sekitar 54 persen produk domestik bruto. Pilar itu sendiri disangga oleh dua kelompok masyarakat — kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah — yang bersama-sama menyumbang lebih dari 81 persen belanja rumah tangga nasional (BPS, 2024). Konsekuensinya lugas: ketika dua kelompok ini mengencangkan ikat pinggang, seluruh perekonomian ikut merasakan sesaknya.
Di antara berbagai pos belanja, berwisata adalah perekam paling peka atas perubahan perilaku mereka. Wisata merupakan konsumsi tersier — dinikmati setelah pangan, papan, dan pendidikan terpenuhi — sehingga menjadi pos pertama yang dipangkas tatkala keuangan keluarga tertekan. Data pariwisata domestik adalah termometer daya beli kelas menengah. Dampaknya pun tidak berhenti di hotel atau taman rekreasi: kajian berbasis Tabel Input-Output Indonesia menunjukkan setiap rupiah belanja wisata melahirkan sekitar 1,8 rupiah output ekonomi (angka pengganda 1,83; Nuryadin dan Purwiyanta, 2023), karena belanja itu merambat ke transportasi, kuliner, pertanian, kerajinan, hingga aneka jasa lokal. Ketika belanja wisata menyusut, penyusutannya berlipat ke seluruh rantai ekonomi daerah.
Angka semester pertama 2026 memperlihatkan gejala yang patut dibaca dengan saksama. Perjalanan wisatawan nusantara pada triwulan pertama tercatat 0,42 miliar. Tumbuh hanya 1,48 persen (BPS, 2026) — melambat tajam dari laju dua digit pada masa pemulihan. Masyarakat masih berwisata; jumlah perjalanan bahkan masih bertambah. Yang berubah adalah angka konsumsinya.
Laporan yang kami terima dari lapangan seragam narasinya. Hotel mencatat okupansi yang naik, tetapi tarif kamar lebih rendah ketimbang tahun lalu, sehingga pendapatan tak kunjung optimal. Taman rekreasi tetap dikunjungi, tetapi belanja ikutannya seperti makanan, cendera mata, wahana premium, menyusut. Inilah gejala yang dalam literatur konsumen disebut downtrading: konsumen tidak berhenti membeli, melainkan turun kelas dalam membeli. Dari hotel bintang empat ke bintang tiga; dari liburan lima hari ke dua hari; dari perjalanan lintas pulau ke destinasi dekat rumah. Volume bertahan, nilai per perjalanan merosot.
Muasalnya dapat dilacak langsung ke struktur sosial kita. Jumlah kelas menengah menyusut dari 57,3 juta jiwa pada 2019 menjadi 46,7 juta pada 2025, sementara kelompok menuju kelas menengah membengkak hingga 142 juta jiwa. Jutaan keluarga yang dahulu leluasa berlibur kini menimbang ulang setiap pengeluaran — terlebih ketika libur sekolah tahun ini berimpitan dengan tahun ajaran baru, saat anggaran liburan harus bersaing dengan uang pangkal, seragam, dan buku. Dalam persaingan itu, pendidikan menang mutlak, dan liburan yang tetap dijalankan dikompresi sedemikian rupa.
Konsekuensi makronya tidak layak diremehkan. Sebagai ilustrasi: bila belanja per perjalanan tergerus lima persen sementara volume hanya tumbuh 1,5 persen, nilai riil konsumsi wisata domestik menyusut sekitar 3,5 persen. Dengan kontribusi pariwisata terhadap PDB di kisaran 4–5 persen dan pasar domestik sebagai penopang utamanya, penyusutan sebesar itu — setelah diperbesar efek pengganda — setara hambatan 0,1 hingga 0,15 poin persentase terhadap pertumbuhan. Angkanya terdengar kecil, tapi dampaknya ke ekonomi besar.
Di tengah pelemahan domestik itu, kabar baik datang dari arah sebaliknya. Kunjungan wisatawan mancanegara Januari–April 2026 mencapai 4,68 juta, tumbuh 8,24 persen. Estimasi kami, semester pertama ini akan berada di kisaran 7,4–7,5 juta kunjungan. Belanja per kunjungan naik menjadi 1.346 dollar AS, dan devisa triwulan pertama tercatat 4,05 miliar dollar AS, tumbuh 6,3 persen (BPS, 2026). Rupiah yang melemah, justru menjadikan Indonesia kian murah dan memikat di mata dunia.
Persoalannya terletak pada skala. Pasar domestik kita melampaui satu miliar perjalanan per tahun; pasar mancanegara baru belasan juta kunjungan. Tambahan devisa semester ini — kurang lebih Rp4 triliun–Rp5 triliun per triwulan — terlampau kecil untuk menambal kebocoran konsumsi domestik yang berskala ratusan triliun rupiah. Wisatawan asing yang bertambah, menyelamatkan devisa dan neraca eksternal, tetapi belum menyelamatkan hotel di Yogyakarta, taman rekreasi di Jawa Tengah, atau warung-warung yang hidup dari wisatawan nusantara.
Perbandingan regional menambah getir. Pada semester pertama 2026, Indonesia diperkirakan berada di posisi kelima di antara lima destinasi utama ASEAN — di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura. Pola serupa tampak pada devisa: Vietnam meraup sekitar 33 miliar dollar AS setahun, Thailand 30 miliar, Singapura 26 miliar — sedangkan Indonesia berkisar 18–19 miliar dollar AS. Padahal pada indeks daya saing pariwisata dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-22 — kedua terbaik di ASEAN. Modal alam dan budaya kita kelas satu; hasil panennya masih kelas lima.
Di sinilah letak doktrin yang semestinya memandu kebijakan. Ekonomi pariwisata yang sehat berjalan dengan dua mesin: permintaan domestik dan permintaan mancanegara. Ketika satu mesin melemah — sebagaimana daya beli kelas menengah kita hari ini akibat pelemahan kurs, suku bunga tinggi, dan pendapatan riil yang stagnan — mesin satunya wajib dipacu menutup lubang yang menganga. Thailand dan Vietnam menjalankan doktrin ini dengan disiplin: begitu satu sumber permintaan melemah, keran visa dibuka, rute penerbangan ditambah, promosi digencarkan. Indonesia belum. Mesin wisatawan mancanegara kita memang menyala, tetapi dijalankan pada gigi rendah: cakupan bebas visa kita jauh di bawah pesaing, dan kapasitas kursi penerbangan internasional kita sekitar 29 juta — nyaris separuh Thailand yang mendekati 49 juta.
Enam bulan tersisa menuju tutup tahun, dan ruang kebijakan masih terbuka. Tiga langkah dapat dieksekusi segera. Pertama, kompetitifkan berwisata di dalam negeri: tarif pesawat domestik kita tergolong termahal di ASEAN akibat struktur harga avtur, PPN, dan biaya kebandar-udaraan; stimulus diskon transportasi yang terbukti efektif semestinya dijadikan kebijakan terjadwal, bukan kejutan musiman — sebab setiap rupiah yang dihemat keluarga di tiket, berpindah menjadi belanja di hotel, restoran, dan UMKM destinasi. Kedua, buka keran permintaan mancanegara selebar-lebarnya melalui perluasan fasilitasi visa bagi pasar bernilai tinggi dan insentif rute penerbangan langsung; kajian kami menunjukkan penerimaan negara yang dilepaskan dari tarif visa kembali berlipat melalui devisa dan pajak atas belanja wisatawan. Ketiga, jangan menambah beban sektor yang marginnya menipis — tunda pungutan baru, dan arahkan belanja rapat pemerintah ke hotel daerah pada bulan-bulan sepi; sektor ini menyerap 25,91 juta pekerja, dan menjaganya tetap hidup adalah kebijakan ketenagakerjaan itu sendiri.
Maka, terancamkah pertumbuhan 2026? Belum pada angkanya, tetapi sudah pada kualitasnya. Volume perjalanan masih tumbuh dan angka agregat kemungkinan tetap positif, namun nilai yang mengalir di baliknya kian menipis — dan penipisan itu bermula dari kelas menengah yang berhemat. Downtrading pariwisata hari ini adalah peringatan dini bagi konsumsi nasional esok hari. Enam bulan tersisa cukup untuk menjawabnya, asalkan kedua mesin pariwisata dinyalakan penuh — bukan hanya satu.
© 2026 The Ledger. All rights reserved.
