Konflik Timur Tengah Dan Peluang Pariwisata Holistik Indonesia: Strategi Menangkap Displacement Effect Pasar Timur Tengah
Pasar wisatawan Muslim global mencapai 176 juta kedatangan internasional pada 2024, diproyeksikan tumbuh menjadi 245 juta pada 2030 dengan belanja USD 230 miliar. Namun, posisi Indonesia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025 justru merosot dari peringkat 1 ke peringkat 5, sementara Thailand dan Malaysia bergerak agresif menangkap pasar Timur Tengah.
POLICY BRIEF
Redaksi Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia
3/2/20261 min read


RINGKASAN EKSEKUTIF
Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 dan penutupan Selat Hormuz telah menciptakan displacement effect multidimensi dari kawasan Timur Tengah. Jutaan warga negaranegara Gulf Cooperation Council (GCC) kini mencari destinasi alternatif—bukan hanya untuk wisata, tetapi juga untuk investasi, pendidikan, bisnis, dan tempat tinggal jangka panjang.
Pasar wisatawan Muslim global mencapai 176 juta kedatangan internasional pada 2024, diproyeksikan tumbuh menjadi 245 juta pada 2030 dengan belanja USD 230 miliar. Namun, posisi Indonesia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025 justru merosot dari peringkat 1 ke peringkat 5, sementara Thailand dan Malaysia bergerak agresif menangkap pasar Timur Tengah.
Policy brief ini mengusulkan strategi Lima Magnet Pariwisata Holistik berbasis Holistic Tourism Theory untuk menangkap peluang ini secara komprehensif: Magnet Investasi, Magnet Pendidikan, Magnet Ekosistem Halal, Magnet Gaya Hidup, dan Magnet Konektivitas. Jendela peluang bersifat temporer—6 hingga 12 bulan—dan membutuhkan respons kebijakan yang cepat serta terkoordinasi lintas kementerian.
