Mungkinkah Indonesia Mengejar Jepang?: Strategi Repositioning Pariwisata Indonesia di Tengah Pergeseran Peta Asia 2025–2030
Data UN Tourism yang dirilis April 2026 menunjukkan pergeseran fundamental pada peta pariwisata Asia: Jepang muncul sebagai pemimpin regional dengan penerimaan pariwisata internasional USD 64 miliar (+17,1% YoY) dan 42,7 juta kunjungan (+15,8% YoY).
POLICY BRIEF
Redaksi Pusat Kajian Pariwisata & Ekonomi Indonesia
4/23/20261 min read


RINGKASAN EKSEKUTIF
Data UN Tourism yang dirilis April 2026 menunjukkan pergeseran fundamental pada peta pariwisata Asia: Jepang muncul sebagai pemimpin regional dengan penerimaan pariwisata internasional USD 64 miliar (+17,1% YoY) dan 42,7 juta kunjungan (+15,8% YoY). China tampil sebagai kekuatan ganda — destinasi dengan pertumbuhan tercepat (+37,3%) sekaligus pasar source market terbesar dunia (pengeluaran outbound USD 254 miliar). Sementara itu, Thailand — yang selama dua dekade menjadi benchmark ASEAN — justru mengalami penurunan kedatangan -7,2%, mengindikasikan kelelahan model pariwisata massalnya.
Di tengah pergeseran ini, Indonesia tidak masuk 15 besar dunia dalam metrik manapun: receipts (USD 18,91 miliar), arrivals (15,39 juta), maupun ekspor jasa pariwisata. Meski pencapaian 2025 melampaui target pemerintah, kesenjangan terhadap Jepang semakin melebar — rasio receipts Indonesia:Jepang berada pada 1:3,4, padahal skala ekonomi kedua negara sebanding.
