Bocelli Memilih Borobudur, dan Itu Bukan Kebetulan

Andrea Bocelli akan tampil di kawasan Candi Borobudur pada 31 Oktober dan di Jakarta International Expo pada 3 November. Promotor sekelas itu tidak memilih tempat secara asal. Kedatangannya adalah tanda bahwa Indonesia hari ini layak menjadi panggung dunia.

OPINI

Muhammad Rahmad - Staf Khusus Menteri Pariwisata RI dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia (PKPEI).

8/20/20263 min read

Andrea Bocelli akan bernyanyi di kawasan Candi Borobudur pada 31 Oktober nanti. Tiga hari berselang ia tampil di Jakarta International Expo. Ini kabar yang layak dirayakan.

Bocelli bukan artis sembarangan. Suaranya dikenal dari Milan sampai Tokyo. Promotor sekelas Bocelli tentu tidak memilih tempat asalan. Mereka memilih negara yang panggungnya siap, izinnya jelas, dan reputasinya terjaga. Karena itu, keputusan membawa Bocelli ke Borobudur adalah tanda, Indonesia siap menjadi destinasi event kelas dunia.

Anggapan itu tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari kerja yang tekun selama beberapa tahun terakhir.

Kementerian Pariwisata di bawah Menteri Widiyanti Putri Wardhana mencatat angka yang menggembirakan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026 sudah ada 105 event yang didukung. Pengunjungnya mencapai 6,47 juta orang. Perputaran ekonominya sekitar 1 (satu) triliun rupiah. Sampai akhir tahun targetnya 206 event.

Yang paling saya hargai bukan angka besarnya, tapi ke mana uang itu mengalir. Lebih dari 11.000 (sebelas ribu) usaha mikro dan kecil ikut menikmati. Begitu juga 184 ribu pekerja seni. Mereka yang terdiri dari penari, penabuh gamelan, penjahit kostum, penyewa tenda, pedagang makanan di sekitar venue, bukan penonton. Mereka adalah pelakunya.

Data makro juga bergerak ke arah yang benar. Sepanjang semester pertama 2026 kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta atau tumbuh 5,71 persen. Itu capaian tertinggi untuk periode Januari sampai Juni sejak 2020. Pergerakan wisatawan nusantara lebih mengesankan lagi, menembus 630 juta perjalanan dan menjadi yang tertinggi sejak 2019. Investasi di sektor pariwisata pada semester pertama menyentuh angka Rp39,68 triliun.

Artinya, pariwisata kita sudah melewati etape pemulihan. Kita sedang masuk etape pertumbuhan.

Memang bila dibandingkan tetangga, angka kita belum yang teratas di kawasan. Tetapi saya melihatnya dengan cara berbeda. Justru di situ letak kabar baiknya. Negara yang pasarnya sudah jenuh hanya bisa tumbuh sedikit setiap tahun. Indonesia punya ruang tumbuh yang paling lebar di Asia Tenggara. Kita punya tujuh belas ribu pulau, ribuan desa yang budayanya masih hidup, dan lima destinasi super prioritas yang infrastrukturnya baru saja rampung. Ruang seluas itu tidak dimiliki siapa pun di kawasan ini.

Yang dibutuhkan sekarang adalah cara kerja yang tepat untuk memanennya. Dan menurut saya arah yang dipilih Kemenpar hari ini sudah benar.

Kementerian tidak lagi menempatkan diri sebagai penyelenggara tunggal. Kementerian memilih peran sebagai pengorkestrasi ekosistem. Bedanya besar sekali. Penyelenggara sibuk mengurus acara satu per satu dengan anggaran yang selalu terbatas. Pengorkestrasi menyiapkan panggung, aturan main, dan insentif, lalu mengundang seluruh pemain masuk. Kementerian, pemerintah daerah, maskapai, perhotelan, promotor, sampai pelaku usaha desa wisata bergerak dalam satu irama.

Cara kerja inilah yang membuat konser sekelas Bocelli akhirnya datang ke Borobudur, bukan ke tempat lain di kawasan.

Ke depan, saya membayangkan tiga hal yang akan membuat orkestrasi ini semakin bertenaga.

Pertama, paket insentif yang terukur bagi penyelenggara event internasional. Promotor global bekerja dengan kalender tiga tahun ke depan. Kepastian adalah mata uang mereka. Semakin jelas kriteria dan dukungannya, semakin banyak nama besar yang mengantre masuk.

Kedua, perizinan event berskala internasional yang cukup lewat satu pintu. Penyederhanaan ini sedang menjadi perhatian bersama lintas kementerian dan hasilnya akan langsung terasa.

Ketiga, menyambung setiap event dengan destinasi di sekitarnya. Tamu yang datang untuk Bocelli sebaiknya tidak pulang keesokan harinya. Ada Prambanan, ada Dieng, ada Yogyakarta, dan tentu ada Bali. Setiap malam tambahan adalah pendapatan tambahan bagi hotel, restoran, sopir, dan pemandu di daerah.

Satu hal yang membuat saya tenang adalah sikap Kemenpar terhadap Borobudur sendiri. Candi ini warisan dunia dan daya dukungnya terbatas. Semangat yang dibawa bukan menjual candi, melainkan meminjam kemegahannya untuk berbicara kepada dunia, lalu mengembalikannya dalam keadaan utuh. Konsistensi menjaga sikap ini justru yang akan membuat Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah event besar berikutnya.

Saya juga berharap keberhasilan kita mulai diukur dengan angka yang lebih kaya. Bukan hanya jumlah event dan jumlah pengunjung. Tetapi juga devisa yang masuk, lama tinggal tamu, belanja per hari, dan berapa persen penonton yang datang dari luar negeri. Ukuran seperti ini akan menunjukkan dampak sesungguhnya, dan saya yakin Kemenpar siap diuji dengan ukuran itu.

Pada akhirnya pariwisata adalah kerja panjang yang hasilnya jarang instan. Ia dibangun dari kepercayaan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Kepercayaan promotor, kepercayaan maskapai, kepercayaan wisatawan, dan kepercayaan masyarakat di destinasi.

Malam itu di Borobudur, ketika suara Bocelli naik ke langit Magelang dan dunia menyaksikan, kepercayaan itu akan bertambah sekali lagi. Pariwisata Indonesia melangkah satu tangga lebih tinggi.

*) Penulis adalah Staf Khusus Menteri Pariwisata dan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia (PKPI).