Menghitung Nilai, Bukan Sekedar Kepala

Ada satu angka dan nilai yang jarang jadi judul berita. Padahal inilah angka terpenting semester ini. Belanja rata-rata wisatawan asing per kedatangan di Indonesia, naik 6,36 persen. Kini mencapai 1.313 dolar AS, atau sekitar Rp21 juta per orang.

OPINI

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia

8/12/20263 min read

Menpar RI
Menpar RI

Di Asia Tenggara, Indonesia sering disebut tertinggal dalam urusan pariwisata. Angkanya memang terlihat begitu. Paruh pertama 2026, Malaysia kedatangan lebih dari 21 juta wisatawan asing. Thailand 16,7 juta. Vietnam 12,3 juta. Indonesia "hanya" 7,45 juta.

Kalah jauh? Tunggu dulu. Pariwisata bukan sekedar lomba menghitung kepala. Yang lebih penting adalah menghitung nilai.

Ada satu angka yang jarang jadi judul berita. Padahal inilah angka terpenting semester ini. Belanja rata-rata wisatawan asing per kedatangan di Indonesia, naik 6,36 persen. Kini mencapai 1.313 dolar AS, atau sekitar Rp21 juta per orang.

Kenaikan belanja itu lebih cepat dari kenaikan jumlah kunjungan yang tumbuh 5,71 persen. Artinya jelas. Tamu kita bukan hanya bertambah banyak. Setiap tamu juga membawa uang lebih besar. Kita tidak cuma menjual lebih banyak. Kita menjual dengan harga lebih baik.

Ini bukan kebetulan. Ini buah strategi yang dipilih Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sejak awal. Pariwisata berkualitas, bukan sekedar pariwisata ramai-ramaian.

Pilihan ini tidak mudah. Menaikkan jumlah kunjungan bisa lewat jalan pintas paket murah. Menaikkan nilai per kunjungan butuh kerja sabar. Menyiapkan wisata kuliner dan kebugaran. Menggarap wisata bahari dan MICE. Menggelar event berkualitas. Menjalankan program Wisata Bersih. Mendampingi lebih dari 6.200 desa wisata agar siap melayani tamu kelas dunia.

Bu Widi memilih jalan sunyi itu. Dan data semester pertama 2026 membuktikan pilihannya benar.

Buktinya ada di mana-mana. Surplus wisatawan melonjak 20,65 persen menjadi 2,99 juta. Wisatawan dunia makin banyak datang ke sini. Warga kita makin senang berlibur di negeri sendiri. Okupansi hotel berbintang naik ke 48,20 persen.

Dampaknya terasa sampai ke bawah. Usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen. Ini pertumbuhan tertinggi kedua dari seluruh sektor usaha nasional. Empat sektor terkait pariwisata menyumbang 0,86 poin dari pertumbuhan ekonomi 5,29 persen.

Yang paling telak adalah suara pasar. Investasi pariwisata melesat 16,64 persen menjadi Rp39,68 triliun. Ini pertumbuhan tertinggi di antara semua indikator. Baru enam bulan, sudah 62,5 persen dari target setahun.

Pikirkan sejenak. Investor tidak akan menanam hampir Rp40 triliun di sektor yang arahnya “diragukan” beberapa pihak. Investor tidak ragu. Mereka percaya pada tesis yang sama dengan Kementerian Pariwisata. Nilai, bukan sekedar volume.

Keunggulan model nilai ini bukan cuma soal devisa. Setiap dolar tambahan per tamu masuk tanpa menambah beban baru bagi alam. Tanpa perlu memadati Tanah Lot. Tanpa menyesaki Komodo.

Uangnya juga tidak berhenti di lobi hotel mewah. Ia mengalir ke pemandu wisata. Ke warung dan restoran. Ke spa, sanggar seni, sampai pengrajin suvenir. Sebagian besar rantai nilainya adalah usaha rakyat. Di sinilah strategi Bu Widi menemukan makna sosialnya. Bernilai tinggi sekaligus merata.

Namun pujian yang jujur harus disertai peringatan yang jujur pula. Justru karena strategi ini terbukti berhasil, mempertahankannya akan jauh lebih berat.

Kenapa? Karena kita tidak lagi sendirian di jalur ini. Hampir semua negara ASEAN kini menempuh strategi yang sama.

Lihat Thailand. Mereka terkontraksi 3,1 persen karena terlalu bergantung pada pasar massal. Sekarang mereka banting setir mengejar wisatawan berkantong tebal. Jualannya pun sama dengan kita. Wellness, kuliner, masa tinggal panjang.

Lihat Vietnam. Tumbuh 14,9 persen, hampir tiga kali laju Indonesia. Mereka agresif membangun resor premium. Visanya terus dipermudah. Malaysia menggeber Visit Malaysia 2026 dengan bidikan serupa. Singapura sudah lama menguasai MICE dan wisata medis.

Yang lebih menantang lagi, semua negara itu membidik pasar yang persis sama dengan incaran kita. India yang kelas menengahnya sedang meledak. Timur Tengah yang belanjanya besar. Tiongkok yang mulai pulih. Eropa yang masa tinggalnya panjang.

Pariwisata berkualitas dengan cepat berubah dari strategi pembeda menjadi strategi standar se-kawasan. Ketika semua negara menjual "quality tourism", pemenangnya bukan yang punya slogan terbagus. Pemenangnya adalah yang paling cepat dan paling konsisten mengeksekusi.

Di sinilah pekerjaan rumah semester kedua menjadi genting.

Pertama, perdalam keunggulan nilai. Wisatawan yang mendarat di Bali harus terdorong menjelajah ke Labuan Bajo atau Danau Toba. Produk wisata kita harus otentik dan sulit ditiru tetangga. Layanan harus bersih, aman, dan pasti, supaya harga premium terasa pantas.

Kedua, percepat urusan akses. Visa dipermudah secara terukur untuk pasar bernilai tinggi. Penerbangan langsung ditambah. Ini faktor paling menentukan. Selama ini wisatawan jarak jauh harus transit di Singapura atau Kuala Lumpur. Sebagian belanja mereka tertinggal di sana.

Ketiga, lebarkan pasar. Enam negara masih menyumbang lebih dari 60 persen kunjungan kita. Di tengah perebutan pasar yang makin sengit, ketergantungan seperti ini adalah kerentanan yang harus dikelola.

Semester pertama 2026 membuktikan dua hal sekaligus.

Pertama, arah yang dipilih Menteri Widiyanti benar. Pariwisata berkualitas bukan jargon. Angka-angkanya kini berbicara sendiri, dari belanja wisatawan yang naik sampai investasi yang mengalir deras. Untuk itu beliau dan jajarannya layak diapresiasi.

Kedua, keberhasilan ini menaikkan taruhan. Seluruh kawasan kini berlari di lintasan yang sama. Memperebutkan wisatawan yang sama. Dengan produk yang makin mirip.

Maka apresiasi ini bukan garis akhir. Ia adalah modal kepercayaan untuk berlari lebih kencang. Jaga konsistensi strateginya, percepat eksekusinya.

Bila itu dilakukan, Indonesia bukan sedang mengejar Malaysia atau Thailand. Indonesia sedang membangun model pariwisata yang kelak justru mereka tiru. Lebih sedikit keriuhan, lebih banyak nilai, dan manfaat yang benar-benar sampai ke rakyat.