Menghitung Ulang Pesona Sialang Batu

Gambir adalah kekuatan yang belum dipakai. Kapur IX penghasil gambir terluas di kabupaten dengan 5.682 hektare. Warga menyebutnya emas cokelat. Sekitar 87 persen penduduk usia produktif di sana adalah petani.

OPINI

Muhammad Rahmad

8/26/20264 min read

Di ujung timur Sumatera Barat ada sebuah ngarai kecil bernama Sialang Batu. Dinding batunya menjulang seperti tembok raksasa. Di kakinya mengalir sungai yang jernih dan dingin.

Letaknya di Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota. Dulu tempat ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki. Setelah jalan diperlebar, waktu tempuhnya tinggal dua puluh menit dari Lubuak Batang.

Pada akhir 2017 fotonya beredar di media sosial dan tempat itu viral. Sejak itu ratusan orang datang setiap hari libur. Sudah hampir sembilan tahun berlalu.

Lalu apa manfaatnya buat masyarakat sekitar?

Pertanyaan itu yang paling layak diajukan, karena di situlah desa wisata diuji. Cara kerjanya sebenarnya sederhana. Desa wisata mengubah hal-hal yang selama ini dianggap biasa oleh warga menjadi sumber penghasilan, tanpa memindahkan siapa pun dan tanpa mengganti mata pencaharian yang sudah ada.

Data Kementerian Pariwisata per Februari 2026 mencatat 6.199 desa wisata di Indonesia. Sebanyak 4.851 masih berstatus rintisan, 996 berkembang, 318 maju, dan hanya 34 yang mandiri. Sialang ada di kelompok pertama, bersama mayoritas.

Ada satu hal soal status yang perlu diluruskan. Nagari Sialang sudah terdaftar dan terverifikasi di Jadesta, jejaring desa wisata milik Kementerian Pariwisata. Tetapi terdaftar secara nasional tidak sama dengan ditetapkan secara resmi oleh daerah. Sampai kini belum ditemukan surat keputusan bupati yang menetapkannya, dan namanya belum muncul di daftar desa wisata yang ditampilkan dinas pariwisata kabupaten. Padahal surat keputusan itu pintu masuk bagi anggaran daerah, legalitas homestay warga, dan akses pembiayaan bank. Bila belum ada, inilah langkah pertama yang paling murah dan cepat.

Praktik terbaiknya sudah terbukti. Lima desa Indonesia meraih predikat Best Tourism Village dari UN Tourism, yaitu Nglanggeran pada 2021, Penglipuran pada 2023, Jatiluwih dan Wukirsari pada 2024, serta Pemuteran pada 2025.

Angkanya nyata. Penglipuran di Bali membukukan Rp25,8 miliar pada 2023 dari tiket masuk saja.

Tetapi pelajaran paling berguna justru datang dari Nglanggeran. Desa itu memulai pada 1999 dengan menghijaukan 48 hektare lahan gersang. Yang membesarkannya bukan tiket, melainkan rantai nilai. Sebanyak 24 kepala keluarga dibantu menjadikan rumah mereka homestay dengan nilai investasi Rp1,5 miliar. Sekitar 96 petani dilatih mengolah kakao. Harga kakao fermentasi yang semula Rp25.000 per kilogram naik menjadi Rp100.000 setelah diolah.

Empat kali lipat, dari komoditas yang sama.

Intinya bukan menambah jumlah pengunjung. Intinya menahan mereka lebih lama dan menyentuh lebih banyak mata rantai.

Bila ukuran itu yang kita pakai, Sialang sebenarnya punya bahan yang cukup. Sialang Batu bukan atraksi tunggal. Di nagari yang sama ada Pantai Lubna berupa hamparan pasir tepi sungai, Ompang Godang yang jadi tempat mandi warga, dan kebun gambir yang siap dijadikan agrowisata. Ada pula tradisi Jalang Manjalang setiap selesai Idulfitri yang menurut catatan nagari berlangsung sejak 1918.

Gambir adalah kekuatan yang belum dipakai. Kapur IX penghasil gambir terluas di kabupaten dengan 5.682 hektare. Warga menyebutnya emas cokelat. Sekitar 87 persen penduduk usia produktif di sana adalah petani.

Tidak jauh dari situ ada Batu Hidung dengan tebing setinggi 35 meter dan air kehijauan yang membuatnya dijuluki Green Canyon. Sungai Batang Kapur yang mengalir di bawahnya dulu adalah jalur dagang emas, gambir, dan karet, menyambung ke arah Candi Muara Takus di Riau.

Satu hal lagi yang sering terlewat. Kapur IX berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Dari Padang jaraknya 226 sampai 250 kilometer dengan waktu tempuh lima sampai enam jam. Kapur IX bukan pedalaman, melainkan beranda. Pasar alaminya adalah Pekanbaru.

Persoalannya ada pada cara menjual. Saat ini Nagari Sialang menawarkan sewa ATV, sampan tradisional, area berkemah, dan kunjungan kebun gambir dengan harga Rp5.000 sampai Rp250.000. Semuanya dijual terpisah dan homestay yang terdaftar masih nol. Orang datang pagi, pulang sore.

Yang dibutuhkan adalah paket utuh dua hari satu malam. Sebut saja Sungai, Gambir, dan Batu.

Sore hari tamu tiba dan menginap di rumah warga dengan masakan nagari. Malamnya mendengar cerita Jalang Manjalang. Pagi berikutnya, turun ke kebun gambir, menikmati the daun gambir, ikut memasak getah sampai menjadi kepingan, lalu membawanya pulang. Siangnya menyusuri sungai dengan sampan menuju Sialang Batu dan Batu Hidung. Diakhir kegiatan, pengunjung disuguhi oleh oleh dan kerajinan tangan khas daerah.

Untuk pasar Pekanbaru, paket tiga hari bisa disambung sampai Candi Muara Takus.

Selisih nilainya jauh lebih besar dari yang diduga. Mari berhitung kasar, sekedar untuk melihat arah.

Pengunjung sehari hanya membelanjakan parkir dan jajan, katakanlah Rp25.000 per orang. Bila setahun ada 20.000 kunjungan, uang yang berputar sekitar Rp500 juta.

Dengan paket menginap, belanja per orang bisa mencapai Rp300.000. Jumlah kunjungan yang sama menghasilkan Rp6 miliar. Selisihnya Rp5,5 miliar setahun, tanpa menambah satu pun pengunjung.

Uang itu tidak masuk ke satu kasir. Ia tersebar ke pemilik rumah, juru masak, pemilik sampan, pemandu, petani gambir, dan tukang ojek. Bila 100 rumah tangga terlibat, tambahannya sekitar Rp55 juta per rumah tangga setahun.

Angka ini simulasi, bukan janji. Tetapi arahnya jelas. Yang perlu dinaikkan adalah belanja per orang, bukan jumlah orang.

Pekerjaan sebesar itu tentu tidak bisa dikerjakan satu pihak. Pemerintah kabupaten memegang kunci pertama, yaitu tata ruang hulu sungai. Kapur IX menyimpan potensi batu bara, marmer, serta galian golongan C. Seluruh pesona Sialang Batu bertumpu pada air yang tetap jernih. Bila hulunya keruh, destinasi ini selesai sebelum tumbuh. Ini keputusan tata ruang, bukan urusan promosi.

Pemerintah nagari perlu melegalkan rumah warga menjadi homestay dan menegakkan standar keselamatan sungai berupa pelampung, pemandu bersertifikat, dan protokol banjir kiriman.

BUMNag Sialang Sakato harus naik kelas dari pemungut karcis menjadi pengelola, dengan satu pintu pemesanan dan pembagian hasil yang transparan.

Perbankan dan lembaga pembiayaan bisa masuk lewat kredit ringan untuk homestay. Nglanggeran membuktikan Rp1,5 miliar sudah cukup melahirkan 24 homestay.

Dinas pariwisata Sumatera Barat dan Riau perlu duduk bersama merangkai paket lintas provinsi. Perguruan tinggi pariwisata menyiapkan pelatihan tuan rumah. Dan para perantau Sialang, yang jumlahnya tidak sedikit dan banyak berhasil, adalah sumber modal awal sekaligus jaringan pasar.

Kementerian Pariwisata berdiri di depan sebagai penggerak yang menyatukan langkah semua pihak, bukan sebagai pelaksana tunggal. Cara kerja inilah yang sedang didorong Ibu Menteri Pariwisata.

Sialang Batu hanyalah satu dari 4.851 desa wisata rintisan di negeri ini. Bila formulanya berhasil di sini, ia bisa dipakai di ribuan tempat lain.

Sebab yang sesungguhnya kita bangun bukan tebing batu itu. Yang kita bangun adalah kesempatan bagi orang-orang yang tinggal di kakinya.

*) Penulis adalah Staf Khusus Menteri Pariwisata RI / Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia