Menterjemahkan Pesan Presiden Prabowo Dari Vladivostok
Pidato kepala negara di forum internasional kerap diperlakukan sebagai peristiwa protokoler. Ia dikutip sehari, lalu berpindah ke arsip. Padahal pidato semacam itu adalah teks kebijakan.
OPINI
Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia
9/5/20264 min read


Pidato kepala negara di forum internasional kerap diperlakukan sebagai peristiwa protokoler. Ia dikutip sehari, lalu berpindah ke arsip. Padahal pidato semacam itu adalah teks kebijakan. Di dalamnya termuat urutan prioritas, isyarat arah, dan tawaran yang mengikat secara reputasional. Tugas kita bukan sekedar mengutipnya, melainkan menerjemahkannya ke dalam bahasa kebijakan yang dapat dieksekusi dan diukur.
Pidato Presiden Prabowo di Vladivostok pada 3 September 2026 layak diperlakukan demikian. Ia tampil sebagai tamu kehormatan utama Eastern Economic Forum ke-11 dan berbicara langsung di hadapan Presiden Vladimir Putin. Panggung itu memberi Indonesia kesempatan merumuskan diri di hadapan kawasan yang selama ini jarang kita sapa serius.
Dibaca sebagai teks, pidato itu bergerak dalam tiga lapis. Lapis pertama bersifat filosofis. Presiden menyatakan Indonesia mengejar pertumbuhan yang lebih cepat, namun bukan pertumbuhan demi pertumbuhan, melainkan pertumbuhan yang mengangkat jutaan orang dari kemiskinan, dan menegaskan bahwa pembangunan harus terukur dari meja makan keluarga biasa. Kalimat itu mudah dilewatkan sebagai retorika, padahal secara akademis ia adalah pernyataan tentang fungsi tujuan kebijakan. Presiden sedang menggeser ukuran keberhasilan dari agregat produk domestik bruto ke kondisi rumah tangga, dan pergeseran itu menuntut indikator distribusi, bukan sekedar indikator laju.
Lapis kedua bersifat geoekonomi. Presiden menempatkan Samudra Pasifik sebagai penghubung dan bukan pemisah, menyebut Vladivostok sebagai gerbang Pasifik, serta menawarkan Indonesia sebagai gerbang alami menuju pasar ASEAN. Ia menegaskan politik bebas aktif dan menyatakan Indonesia tidak akan bergabung dengan aliansi militer mana pun tetapi terbuka pada aliansi ekonomi. Intinya reposisi, dari objek yang diperebutkan menjadi simpul yang menghubungkan.
Lapis ketiga bersifat operasional. Presiden mendesak agar perjanjian perdagangan bebas Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia berlaku awal 2027, mencakup lebih dari sembilan puluh persen barang dan menyentuh 11.882 pos tarif. Ia mengajak melipatgandakan perdagangan bilateral yang kini berkisar lima miliar dolar Amerika, menawarkan 138 blok minyak dan gas, menyebut rencana masuknya raksasa aluminium Rusia, serta membuka kerja sama pupuk, nuklir, pertanian, dan antariksa. Di antara semua itu terselip satu butir yang nyaris tidak dikutip, yaitu rencana jalur pelayaran dan penerbangan langsung Vladivostok dengan Indonesia untuk mendorong pariwisata serta hubungan antarmasyarakat.
Persoalannya, hampir seluruh energi perdebatan publik tersedot ke lapis kedua. Pertanyaan yang berulang adalah apakah Indonesia sedang condong ke Timur. Pertanyaan itu sah tetapi kurang produktif, sebab doktrin bebas aktif memang dirancang untuk membuat pertanyaan semacam itu kehilangan daya jeratnya. Lapis pertama dan ketiga, yang justru paling menentukan nasib rakyat, nyaris tidak dibahas.
Saya mengusulkan tiga kriteria untuk menerjemahkannya. Pertama kecepatan konversi, yaitu berapa lama sebuah kerja sama berubah menjadi devisa dan lapangan kerja. Kriteria ini mendesak karena ruang makroekonomi kita tidak longgar. Rupiah bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar Amerika, neraca pembayaran defisit, dan inflasi tahunan Agustus menanjak ke 3,19 persen. Pertumbuhan kuartal kedua memang 5,29 persen, tetapi penopang terbesarnya belanja konsumsi pemerintah yang melonjak 18,62 persen. Mesin kita bertumpu pada fiskal, dan fiskal punya batas. Kedua sebaran manfaat, yaitu seberapa cepat manfaat menjangkau rumah tangga di daerah, yang merupakan turunan langsung dari kalimat meja makan tadi. Ketiga ketahanan terhadap risiko sanksi dan kepatuhan perbankan.
Hasilnya cukup terang. Kilang aluminium, tenaga nuklir, dan eksplorasi migas bernilai strategis tinggi namun konversinya lambat karena berhorizon satu dekade atau lebih, sekaligus paling terpapar risiko pembiayaan. Perjanjian dagang Eurasia berada di posisi menengah. Sedangkan konektivitas dan mobilitas manusia menempati posisi tertinggi pada dua kriteria pertama dengan kebutuhan modal jauh lebih kecil.
Data mendukung penilaian itu. Badan Pusat Statistik mencatat 8,98 juta kunjungan wisatawan asing sepanjang Januari hingga Juli 2026, tertinggi sejak 2020 dan tumbuh 5,23 persen. Rusia pun bukan pasar asing bagi kita. Rute langsung Moskow menuju Denpasar pernah dibuka dan maskapai Rusia berulang kali menyatakan minat menambah rute. Lama tinggalnya panjang, belanjanya besar, dan musim keberangkatannya jatuh ketika pasar lain melandai. Secara geografis Bali bahkan tidak lebih jauh dari Vladivostok dibanding resor di bagian barat negeri mereka sendiri.
Keberatan yang lazim menyebut pariwisata rapuh dan bernilai tambah rendah. Kerapuhan itu sesungguhnya fungsi dari konsentrasi pasar dan konsentrasi geografis, bukan sifat bawaan sektornya, sedangkan nilai tambahnya ditentukan kedalaman rantai pasok domestik. Keduanya persoalan tata kelola. Yang saya ajukan pun bukan penggantian hilirisasi, melainkan penataan urutan waktu. Hilirisasi adalah jawaban untuk satu dekade, pariwisata jawaban untuk musim yang sedang berjalan.
Pintu yang dibuka di Vladivostok juga tidak berguna tanpa tiga pekerjaan rumah. Jalur pembayaran harus dipastikan, sebab bank besar cenderung menghindari transaksi dengan pihak Rusia sehingga arus uang tersendat meski arus orang lancar. Ekonomi bayangan harus ditertibkan, karena wisatawan berdurasi tinggal panjang kerap bergeser menjadi pelaku usaha tidak tercatat sehingga devisa bocor. Sebarannya harus diatur agar tidak menumpuk di satu pulau, padahal Manado, Lombok, Labuan Bajo, dan Raja Ampat sangat sesuai dengan karakter pasar ini.
Ketiganya memperlihatkan satu hal penting, yaitu tak satu pun berada di tangan satu kementerian. Pariwisata pada dasarnya bukan sektor, melainkan ekosistem lintas kementerian dan lembaga. Karena itu Kementerian Pariwisata perlu tampil sebagai dirijen yang mengatur irama dan gerak, bukan sekedar salah satu pemain. Orkestrasi yang rapi menghasilkan bunyi yang produktif bagi ekonomi nasional. Tanpa dirijen, setiap instansi memainkan partitur sendiri dan hasilnya sekedar kebisingan.
Keimigrasian paling menentukan dalam orkestrasi itu karena ia menjaga pintu masuk. Kemudahan bagi warga Rusia perlu diberikan agar rute langsung punya arti, namun kemudahan bukan berarti kelonggaran. Yang kita perlukan adalah pintu yang lebar disertai saringan yang tinggi. Prosedurnya cepat di loket, penyaringannya ketat sejak sebelum keberangkatan, dan pengawasannya berlanjut atas penyalahgunaan izin tinggal. Kemudahan tanpa saringan hanya memindahkan persoalan dari bandara ke destinasi.
Pesan dari Vladivostok baru selesai diterjemahkan ketika ia sampai pada hal-hal kecil yang bisa dihitung. Berapa rute penerbangan langsung yang benar-benar terbang. Seberapa penuh pesawat itu sepanjang musim dingin. Berapa yang dibelanjakan setiap tamu selama tinggal di sini. Dan berapa bagian dari belanja itu yang dibeli dari petani, nelayan, serta perajin kita sendiri.
*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti, Jakarta
