Pariwisata Indonesia Dicintai Dunia
Indonesia dinobatkan sebagai negara terbaik ketiga di dunia untuk dikunjungi seumur hidup versi survei 295.000 pembaca CEOWORLD Magazine. Sebuah pengakuan atas kerja panjang membangun pariwisata berkualitas — sekaligus pengingat bahwa dunia baru ingin datang, belum benar-benar datang. Esai ini menguraikan empat langkah untuk mengubah minat menjadi kunjungan.
OPINI
Muhammad Rahmad, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia
8/15/20264 min read


Ada kabar baik yang beredar di media sosial pekan ini. Sebuah survei pembaca CEOWORLD Magazine menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia sebagai negara terbaik untuk dikunjungi seumur hidup. Skornya 65,15.
Yang menarik bukan sekadar angkanya, melainkan negara mana saja yang kita lewati.
Indonesia berada di atas Italia, India, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Spanyol. Jepang ada di urutan 29. Di kawasan sendiri, kita hanya berada dibawah Thailand. Malaysia dan Singapura bahkan tidak masuk 35 besar. Filipina di urutan 24, Vietnam 26.
Survei ini melibatkan lebih dari 295.000 responden. Jumlah partisipasi terbesar sepanjang sejarah majalah tersebut.
Mari kita jujur sejak membaca data tersebut. Ini bukan statistik resmi. Ini jajak pendapat pembaca. Ia mengukur keinginan, bukan kedatangan. Tetapi justru di situlah nilainya.
Dalam pariwisata, keinginan adalah bahan baku paling awal. Tidak ada orang yang membeli tiket ke tempat yang tidak pernah ia impikan. Impian tidak tumbuh dalam semalam. Ia dibangun dari cerita, dari ulasan, dari foto yang dibagikan teman, dari pengalaman yang memuaskan dan diceritakan ulang.
Artinya, peringkat ketiga itu tidak jatuh dari langit. Ia adalah hasil pekerjaan panjang yang jarang terlihat.
Kerja yang membuahkan reputasi
Sejak awal masa jabatannya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memilih satu arah yang konsisten: pariwisata berkualitas, bukan pariwisata ‘ramai-ramaian’.
Pilihan itu terdengar sederhana, tetapi pelaksanaannya berat. Menaikkan jumlah kunjungan bisa lewat jalan pintas paket murah. Menaikkan mutu pengalaman butuh kerja sabar dan tidak fotogenik.
Mendampingi lebih dari 6.200 desa wisata agar siap melayani tamu kelas dunia. Menjalankan program Wisata Bersih. Menggarap wisata gastronomi, kebugaran, bahari, dan MICE. Menggelar event berkualitas lewat Karisma Event Nusantara dan Event by Indonesia. Membenahi keselamatan berwisata. Mendigitalkan layanan lewat Tourism 5.0.
Hasilnya mulai terbaca di angka semester pertama 2026. Belanja rata-rata wisatawan asing naik 6,36 persen menjadi 1.313 dolar AS per kunjungan. Kunjungan tumbuh 5,71 persen menjadi 7,45 juta. Okupansi hotel berbintang naik ke 48,2 persen. Usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 10,6 persen, tertinggi kedua secara nasional.
Yang paling telak adalah suara pasar. Investasi pariwisata melesat 16,64 persen menjadi Rp39,68 triliun hanya dalam enam bulan. Investor tidak menaruh uang sebesar itu di sektor yang arahnya diragukan.
Beberapa hari lalu, Kementerian Pariwisata juga menandatangani nota kesepahaman dengan Danantara. Cakupannya luas: infrastruktur destinasi, pengembangan hotel lewat InJourney, sampai venue konser kelas dunia. Ini upaya menjawab satu keluhan lama, bahwa artis global lebih sering singgah di Singapura dan Bangkok ketimbang Jakarta.
Untuk semua itu, Menteri Widiyanti dan jajarannya layak diapresiasi. Reputasi yang kita nikmati hari ini adalah buah dari konsistensi.
Reputasi belum kunjungan
Di sinilah kita harus berhenti sejenak untuk bertepuk tangan dan mulai berhitung.
Bandingkan dua daftar. Dalam survei minat, Indonesia peringkat tiga dunia. Dalam data kedatangan wisnus semester pertama 2026, Indonesia peringkat lima di ASEAN.
Malaysia yang tidak masuk 35 besar dalam survey, tetapi kedatangan 21,12 juta wisatawan. Kita 7,45 juta. Singapura yang juga absen dari daftar, berhasil mendatangkan 8,19 juta. Vietnam yang berada di urutan 26 tumbuh 14,9 persen, hampir tiga kali laju kita.
Kesimpulannya belum nyaman, tetapi penting. Dunia ingin datang ke Indonesia, namun dunia belum benar-benar datang.
Kita menang di angan-angan, namun masih tertinggal di angka. Peringkat tinggi tanpa konversi adalah pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.
Ada empat hal yang patut diwaspadai.
Pertama, sumbatan akses. Minat yang besar mati di meja pemesanan ketika penerbangan langsung tidak tersedia dan visa merepotkan. Wisatawan Eropa dan Timur Tengah masih harus transit di Singapura atau Kuala Lumpur. Sebagian belanja mereka tertinggal di sana sebelum menginjak tanah air kita.
Kedua, merek yang terlalu terpusat. Dunia menyebut "Indonesia", tetapi yang mereka bayangkan seringkali hanya Bali. Padahal daya tahan sebuah destinasi justru ditentukan oleh kedalaman pilihan, bukan satu pulau.
Ketiga, dan ini yang paling berbahaya, kesenjangan antara janji dan kenyataan. Ekspektasi peringkat tiga dunia menciptakan risiko kecewa yang juga tinggi. Sampah di pantai, tarif yang tidak transparan, pungutan liar, kapal wisata yang tidak layak, penginapan tanpa standar keselamatan. Satu video buruk yang viral menyebar lebih cepat daripada kampanye promosi termahal sekalipun.
Reputasi itu seperti tabungan. Ia dikumpulkan bertahun-tahun dan bisa terkuras dalam satu musim.
Keempat, peringkat ini rapuh karena sifatnya persepsi. Ia bisa berubah tahun depan. Sementara itu, negara pesaing tidak sedang beristirahat. Mereka terus mengejar. Thailand yang terkontraksi 3,1 persen kini banting setir mengejar wisatawan berkantong tebal, dengan produk yang mirip dengan kita. Vietnam mempermudah visa dan membangun resor premium secara agresif. Malaysia menggeber Visit Malaysia 2026.
Empat pekerjaan rumah
Momentum sebaik ini tidak datang setiap tahun. Maka pertanyaannya bukan bagaimana merayakannya, melainkan bagaimana memanennya.
Pertama, ubah minat menjadi tiket. Ini pekerjaan paling mendesak. Permudah visa secara terukur bagi pasar bernilai tinggi seperti India, Timur Tengah, dan Eropa. Tambah penerbangan langsung dan turunkan biaya konektivitas udara. Perkuat kerja sama penjualan dengan maskapai dan agen perjalanan daring, tepat ketika nama Indonesia sedang ramai dibicarakan. Dan mulailah mengukur satu indikator baru: berapa persen minat yang benar-benar berubah menjadi kedatangan.
Kedua, kunci janji itu dengan standar layanan. Program Wisata Bersih dan keselamatan berwisata perlu naik kelas dari program menjadi standar wajib, dengan pengawasan yang terlihat. Transparansi harga di destinasi utama harus ditegakkan. Kanal pengaduan wisatawan sebaiknya satu pintu dan cepat direspons. Pembinaan akomodasi non-resmi diteruskan sebagai pendampingan agar naik kelas, bukan sekadar penertiban.
Ketiga, sebarkan merek ke luar Bali. Rancang pola perjalanan lintas destinasi agar tamu yang mendarat di Bali terdorong melanjutkan ke Labuan Bajo, Danau Toba, Borobudur, atau Raja Ampat. Setiap tambahan satu destinasi berarti tambahan malam menginap, tambahan belanja, dan pemerataan manfaat ke daerah.
Keempat, pastikan kesepakatan berubah menjadi pekerjaan. Nota kesepahaman dengan Danantara masih berupa payung. Ia perlu segera diturunkan menjadi perjanjian teknis dengan target, tenggat, dan penanggung jawab yang jelas. Venue konser kelas dunia dan pengembangan hotel adalah dua hal yang paling ditunggu industri.
Undangan, bukan piala
Peringkat ketiga dunia sebaiknya tidak diperlakukan sebagai piala yang dipajang. Ia lebih tepat dibaca sebagai undangan.
Dunia sudah mengatakan ingin datang ke Indonesia. Itu bagian yang paling sulit, dan kita sudah meraihnya. Yang tersisa adalah bagian yang sepenuhnya berada dalam kendali kita sendiri: membuka pintu rumah kita, merapikan rumahnya, dan memastikan tamu yang datang betah lebih lama.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pariwisata bukan seberapa banyak orang mengagumi kita dari jauh. Melainkan seberapa banyak yang datang, tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya di warung dan usaha rakyat, lalu pulang membawa cerita yang membuat orang lain ingin menyusul.
