Pariwisata Indonesia Sedang Naik Kelas

Ada kabar baik yang layak kita rayakan dari sektor pariwisata. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Indonesia menyambut 7,45 juta wisatawan mancanegara — capaian paruh tahun tertinggi sejak 2020, tumbuh 5,71 persen dibanding periode yang sama tahun lalu

OPINI

Muhammad Rahmad - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia

8/5/20263 min read

Muhammad Rahmad
Muhammad Rahmad

Ada kabar baik yang layak kita rayakan dari sektor pariwisata. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Indonesia menyambut 7,45 juta wisatawan mancanegara — capaian paruh tahun tertinggi sejak 2020, tumbuh 5,71 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (BPS, 2026a). Angka ini bukan sekadar pemulihan; ia adalah bukti bahwa kepercayaan dunia terhadap Indonesia sebagai destinasi telah kembali pulih dan terus menguat.

Namun kabar yang lebih menggembirakan justru tersembunyi di balik angka kunjungan itu. Pada triwulan kedua 2026, rata-rata belanja setiap wisatawan naik menjadi sekitar US$1.285 — tumbuh 7,17 persen dibanding tahun sebelumnya (BPS, 2026b). Artinya, setiap tamu yang datang kini memberi manfaat ekonomi yang lebih besar bagi negeri ini. Inilah pertanda paling penting: pariwisata kita sedang naik kelas, bergeser dari sekadar mengejar jumlah menuju membangun nilai.

Mengapa pergeseran ini begitu berarti? Sebagai gambaran, Singapura mampu meraih devisa sekitar US$23 miliar hanya dari 16,9 juta kunjungan, sementara devisa pariwisata kita pada 2024 masih sekitar US$9,75 miliar (PKPEI, 2026a). Kesenjangan ini bukan alasan untuk berkecil hati, melainkan peta ruang tumbuh yang sangat luas: bila nilai belanja per kunjungan terus kita angkat, lompatan devisa berada dalam genggaman. Kualitas yang menuntun kuantitas — bukan sebaliknya — adalah fondasi pertumbuhan yang lestari, yang manfaatnya lebih merata dan lebih tahan menghadapi gejolak sesaat.

Optimisme ini diperkuat oleh capaian di berbagai lini. Pada 2026, Indonesia melompat ke peringkat kedua dunia sebagai destinasi wisata ramah Muslim dengan skor 79 — tertinggi sepanjang sejarah kita (CrescentRating & Mastercard, 2026). Ini modal luar biasa, mengingat Indonesia adalah rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia, sekitar 240 juta jiwa (PKPEI, 2026b), di tengah pasar global yang diperkirakan tumbuh dari 176 juta menjadi 245 juta wisatawan Muslim pada 2030 (CrescentRating & Mastercard, 2025). Pasar-pasar baru pun bertumbuh: pada Juni 2026, kunjungan dari Singapura naik 24,3 persen dan Australia 8,0 persen dibanding bulan sebelumnya (BPS, 2026c), menandakan daya tarik Indonesia yang kian luas dan beragam.

Peluang lain yang menjanjikan adalah wisata pertemuan dan konferensi (MICE). Pasarnya di Indonesia diperkirakan tumbuh dari US$2,32 miliar pada 2023 menjadi US$7,41 miliar pada 2032, salah satu laju tercepat di kawasan (Astute Analytica, 2024); dan pemerintah menargetkan kontribusi devisanya naik dari sekitar 10 persen menjadi 15 persen pada 2029 (Kementerian Pariwisata, 2026a). Segmen inilah yang paling ampuh menaikkan belanja per kunjungan — persis kunci naik kelas yang kita bicarakan.

Dengan fondasi ini, target 16 juta wisatawan pada 2026 berada dalam jangkauan — melampaui capaian tahun 2025 yang sebesar 15,39 juta (Kementerian Pariwisata, 2026b; BPS, 2026a). Musim puncak pada paruh kedua tahun, bila ditopang kebijakan yang tepat, dapat menutup jarak yang tersisa. Yang kita perlukan bukanlah mukjizat, melainkan konsistensi: mempermudah akses masuk bagi wisatawan dunia, memperluas negara asal kunjungan, dan menyebarkan berkah pariwisata ke luar Bali — menuju Danau Toba, Borobudur, Lombok, Labuan Bajo, dan destinasi indah lain yang menanti gilirannya.

Yang membuat seluruh kerja ini bermakna adalah dampaknya bagi manusia. Pariwisata adalah satu dari sedikit sektor yang mampu mengubah keindahan alam dan kekayaan budaya menjadi kesejahteraan nyata. Penyelenggaraan KTT G20 di Bali pada 2022, misalnya, menyumbang sekitar Rp7,5 triliun bagi perekonomian dan membuka sekitar 33.000 lapangan kerja (Antara, 2022). Setiap kenaikan belanja wisatawan berarti lebih banyak pekerjaan bagi pemandu wisata, pelaku usaha kecil, perajin, dan keluarga di desa-desa wisata.

Maka, mari kita rawat momentum ini dengan optimisme yang beralasan. Data paruh pertama 2026 menunjukkan arah yang benar; tugas kita kini adalah mempercepat langkah di jalan yang sudah tepat. Saya percaya, dengan kerja sama yang erat antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, Indonesia tidak hanya akan mencatat lebih banyak kunjungan, tetapi juga lebih banyak nilai, lebih banyak lapangan kerja, dan lebih banyak kebanggaan. Potensi kita besar — dan kini saatnya mengubah potensi itu menjadi prestasi.

Daftar Pustaka

Astute Analytica. (2024). Indonesia MICE market: Ukuran pasar dan proyeksi 2024–2032. Astute Analytica.

Badan Pusat Statistik. (2026a). Perkembangan pariwisata dan transportasi nasional: Berita Resmi Statistik (Rilis 3 Agustus 2026). Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2026b). Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara, triwulan II 2026. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik. (2026c). Kunjungan wisatawan mancanegara menurut negara asal, Juni 2026. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

CrescentRating & Mastercard. (2025). Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025. Singapura: CrescentRating.

CrescentRating & Mastercard. (2026). Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026. Singapura: CrescentRating.

Kantor Berita ANTARA. (2022). Dampak ekonomi Konferensi Tingkat Tinggi G20 Bali. Jakarta: ANTARA.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (2026a). Program pengembangan MICE dan target kontribusi devisa MICE 2029. Jakarta: Kementerian Pariwisata.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (2026b). Target kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2026. Jakarta: Kementerian Pariwisata.

Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia. (2026a). Strategi pariwisata Indonesia juara ASEAN: Mengubah potensi menjadi prestasi melalui strategi berbasis yield (Policy Brief No. 07/PB/PKPEI/VI/2026). Jakarta: PKPEI.

Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia. (2026b). Potensi pariwisata ramah Muslim (Muslim-friendly tourism): Kajian dengan pendekatan piramida terbalik. Jakarta: PKPEI.