Pramuka dan Masa Depan Pariwisata: Belajar dari Swiss
Indonesia, dengan jumlah anggota Pramuka terbesar di dunia, memiliki modal besar yang belum banyak dimanfaatkan oleh pariwisata nasional. Menurut data World Organization of the Scout Movement (WOSM), Indonesia tercatat memiliki lebih dari 25,27 juta anggota Pramuka—angka tertinggi di seluruh dunia,
OPINI
Muhammad Rahmad - Wakil Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Jakarta Utara
7/13/20264 min read


Ketika kita membayangkan sektor pariwisata, yang terlintas biasanya hotel berbintang, maskapai penerbangan, dan biro perjalanan. Jarang sekali Gerakan Pramuka masuk dalam daftar itu. Padahal, di banyak negara, kepanduan justru menjadi salah satu tulang punggung yang menopang industri wisata—senyap, konsisten, dan berkelanjutan. Indonesia, dengan jumlah anggota Pramuka terbesar di dunia, memiliki modal yang belum banyak dimanfaatkan untuk hal ini.
Sebuah Aset yang Terlupakan
Menurut data World Organization of the Scout Movement (WOSM), Indonesia tercatat memiliki lebih dari 25,27 juta anggota Pramuka—angka tertinggi di seluruh dunia, jauh melampaui Kenya (4,43 juta), India (3,80 juta), dan Filipina (3,34 juta). Angka ini bukan sekadar statistik yang membanggakan untuk dibacakan setiap 14 Agustus. Ini adalah jaringan manusia terlatih yang tersebar hingga ke pelosok desa, terbiasa bekerja di alam terbuka, dan memegang nilai pengabdian sebagai prinsip hidup.
Bandingkan dengan tantangan pariwisata kita. Sepanjang 2024, sektor pariwisata Indonesia menyumbang devisa sekitar 12,63 miliar dolar AS dan pemerintah menargetkan pariwisata sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi menuju target ambisius. Namun pengembangan destinasi—terutama desa wisata dan wisata alam—kerap terganjal persoalan yang justru bisa dijawab oleh kepanduan: kurangnya pemandu lokal yang terlatih, lemahnya kesadaran menjaga lingkungan, dan minimnya sumber daya manusia muda yang siap mengelola destinasi secara profesional.
Pertanyaannya sederhana: mengapa dua kekuatan ini—jaringan Pramuka terbesar sedunia dan sektor pariwisata yang haus sumber daya manusia—jarang dipertemukan?
Studi Kasus: Kandersteg, "Ibu Kota" Kepanduan Dunia
Untuk menjawabnya, kita bisa menengok sebuah desa kecil di kaki Pegunungan Alpen, Swiss. Namanya Kandersteg. Populasinya hanya sekitar seribu jiwa, tersembunyi di lembah Kanton Bern. Namun bagi komunitas kepanduan global, nama Kandersteg setara dengan Mekah bagi umat—tempat yang setidaknya sekali seumur hidup ingin dikunjungi.
Di desa inilah berdiri Kandersteg International Scout Centre (KISC), pusat kepanduan internasional yang didirikan pada 12 Februari 1923 oleh Walther von Bonstetten bersama Robert Baden-Powell, bapak pendiri gerakan kepanduan dunia. Baden-Powell sendiri menyebut Kandersteg sebagai "Pusat Kepanduan Dunia" (the World Scout Centre)—sebuah tempat perjumpaan permanen bagi kaum muda dari seluruh penjuru bumi. Bangunan pertamanya adalah bekas chalet pekerja kereta api yang dibangun pada 1908, dan sejak itu terus berkembang hingga menempati lahan seluas 17 hektar dengan aneka penginapan dan fasilitas.
Yang menarik bukan sekadar sejarahnya, melainkan dampaknya. Setiap tahun, KISC menerima lebih dari 17.000 anak muda dari lebih dari 50 negara. Pada puncak musim panas, kawasan perkemahan yang mampu menampung hingga 1.400 orang ini rata-rata dihuni sekitar seribu tamu setiap hari. Mereka datang untuk mendaki, memanjat tebing, arung jeram, bersepeda gunung, hingga terbang layang di musim panas; dan bermain ski, seluncur salju, serta ice skating di musim dingin. Programnya dibingkai dalam tiga tema besar: Persahabatan Internasional (International Friendship), Petualangan Menantang (High Adventure), dan Petualangan Ramah Lingkungan (Eco Adventure).
Bayangkan arus manusia itu bagi sebuah desa berpenduduk seribu orang. Setiap tamu Pramuka yang datang membutuhkan transportasi, membeli perlengkapan, singgah di toko roti dan restoran lokal, menggunakan jasa pemandu gunung, dan menginap di penginapan sekitar. Kandersteg berubah dari sekadar desa pegunungan biasa menjadi destinasi wisata sepanjang tahun—bukan karena kasino atau resor mewah, tetapi karena sebuah pusat kepanduan. Kepanduan, dalam kasus ini, menjadi mesin ekonomi pariwisata yang menghidupi seluruh komunitas.
Mengapa Model Ini Berhasil
Keberhasilan Kandersteg bukan kebetulan. Setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa ditarik.
Pertama, kepanduan menyediakan wisata yang berbasis nilai, bukan sekadar hiburan. Anak muda tidak datang ke Kandersteg semata-mata untuk berlibur, melainkan untuk tumbuh—membangun persahabatan lintas negara, menguji keberanian, dan belajar mencintai alam. Ini adalah bentuk pariwisata yang bermakna (experiential tourism), jenis yang justru paling dicari oleh wisatawan generasi baru dan paling tahan terhadap gejolak tren.
Kedua, kepanduan menjaga sekaligus memanfaatkan alam. Tema Eco Adventure menempatkan konservasi lingkungan di jantung program. Anak muda diajari bahwa keindahan Pegunungan Alpen adalah aset yang harus dilestarikan, bukan dieksploitasi. Prinsip ini selaras persis dengan arah pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) yang kini menjadi standar dunia—dan yang juga digaungkan pemerintah Indonesia lewat konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Ketiga, kepanduan menciptakan tenaga kerja pariwisata secara alami. Staf KISC adalah relawan muda internasional berusia minimal 18 tahun. Mereka belajar melayani tamu, mengelola logistik, memandu kegiatan berisiko dengan aman, dan berkomunikasi lintas budaya. Tanpa disadari, pusat kepanduan ini berfungsi sebagai sekolah perhotelan dan pemandu wisata gratis. Salah satu alumni staf-nya bahkan tercatat nama besar seperti Eddie "The Eagle" Edwards, atlet ski lompat legendaris Inggris.
Menerjemahkannya ke Indonesia
Indonesia tidak perlu menyalin Kandersteg mentah-mentah, karena konteks kita berbeda. Namun prinsip-prinsipnya sangat bisa diadaptasi—dan justru di sinilah letak peluang besar itu.
Bayangkan jika setiap Kwartir Cabang mengembangkan setidaknya satu "Bumi Perkemahan" tidak hanya sebagai tempat kegiatan internal Pramuka, tetapi sebagai destinasi wisata petualangan yang terbuka untuk umum dan wisatawan asing. Indonesia memiliki ribuan lokasi berpotensi—dari kaki Gunung Rinjani, kawasan karst Maros, hingga pesisir Raja Ampat—yang bisa dikelola dengan semangat dan disiplin ala Kandersteg.
Bayangkan pula program sertifikasi pemandu wisata alam yang mengalir dari Satuan Karya (Saka) Pramuka. Saka Wanabakti untuk kehutanan dan konservasi, Saka Bahari untuk wisata bahari, Saka Wira Kartika, hingga Saka Pariwisata yang memang dirancang untuk menyiapkan anak muda di bidang kepariwisataan. Dengan 25 juta anggota, Indonesia sesungguhnya memiliki "cadangan" pemandu, penjaga kebersihan destinasi, dan duta wisata terbesar di dunia—jika saja energi itu diarahkan.
Bayangkan gerakan bersih-bersih destinasi wisata yang digerakkan Pramuka secara nasional. Salah satu keluhan wisatawan terhadap destinasi Indonesia adalah persoalan kebersihan dan pengelolaan sampah. Di sinilah nilai pengabdian Pramuka—yang tertuang dalam Dasa Darma seperti "cinta alam dan kasih sayang sesama manusia"—dapat diwujudkan menjadi aksi nyata yang langsung berdampak pada daya saing pariwisata.
Dan bayangkan Indonesia menjadi tuan rumah kegiatan kepanduan internasional secara rutin. Setiap Jambore Dunia atau pertemuan kepanduan berskala global mendatangkan puluhan ribu peserta yang menginap, makan, berbelanja, dan menjelajahi negara tuan rumah selama berhari-hari. Ini adalah bentuk pariwisata acara (event tourism) dengan dampak ekonomi yang nyata dan citra bangsa yang terangkat.
Yang Dibutuhkan Sekarang
Semua itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Diperlukan kemauan politik untuk mempertemukan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Kementerian Pariwisata dalam satu meja perencanaan. Diperlukan investasi untuk meningkatkan fasilitas bumi perkemahan agar layak menerima wisatawan. Diperlukan program pelatihan yang menjembatani keterampilan kepanduan dengan standar industri pariwisata. Dan yang terpenting, diperlukan perubahan cara pandang: Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler seragam cokelat, melainkan aset pembangunan nasional yang strategis.
Swiss membuktikan bahwa sebuah desa kecil bisa menjadi pusat wisata dunia berkat kepanduan. Indonesia, dengan gerakan Pramuka terbesar di planet ini, memiliki modal seribu kali lipat. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu, melainkan kapan kita mulai.
Seratus tahun lalu, Baden-Powell memilih sebuah lembah sunyi di Alpen dan mengubahnya menjadi titik temu dunia. Barangkali sudah waktunya kita menemukan "Kandersteg" versi Indonesia sendiri—di setiap gunung, pantai, dan hutan yang selama ini kita miliki, tetapi belum kita sadari nilainya.
*) Muhammad Rahmad - Penulis adalah Wakil Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Jakarta Utara / Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia / Dosen Pariwisata Trisakti.
