Tamu Itu Sudah Sampai Kuala Lumpur, Tinggal Kita Jemput
Ekonomi Sumatera Barat terus tumbuh di bawah rata-rata nasional, padahal sektor pariwisatanya justru berlari paling kencang dan provinsi ini sudah diakui sebagai destinasi ramah muslim peringkat kedua di Indonesia. Artikel ini menawarkan satu jalan keluar yang konkret, yaitu menjemput wisatawan Timur Tengah yang sudah mendarat di Kuala Lumpur, lengkap dengan delapan pekerjaan rumah yang harus dibenahi lebih dulu.
OPINI
Muhammad Rahmad - Staf Khusus Menteri Pariwisata RI / Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia
8/20/20267 min read


Ada satu angka dari Badan Pusat Statistik yang seharusnya membuat kita di Sumatera Barat berhenti sejenak dan berpikir.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Sumatera Barat tumbuh 4,54 persen. Nasional tumbuh 5,29 persen. Untuk kesekian kalinya, Ranah Minang berjalan lebih pelan dari Indonesia. Di antara provinsi se-Sumatera, posisi kita nomor delapan.
Namun di balik angka yang lesu itu, ada satu sektor yang berlari kencang. Dari semua lapangan usaha, yang tumbuh paling tinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum, yakni 17,57 persen. Jauh di atas sektor mana pun. Pertanian yang menjadi tulang punggung kita hanya tumbuh 5,38 persen. Tingkat penghunian kamar hotel bintang pada Juni 2026 mencapai 52,16 persen, naik hampir tujuh poin dibanding tahun lalu.
Mesin yang paling kencang berputar di Sumatera Barat hari ini adalah mesin pariwisata. Pertanyaannya, mengapa kita masih memperlakukannya sebagai pelengkap?
Pertanyaan itu terus mengganggu saya ketika diajak diskusi oleh Irman Gusman, senator senior asal Sumatera Barat yang pernah memimpin Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Kami bicara berjam-jam tentang satu hal yang sama. Bagaimana memajukan pariwisata dan ekonomi Sumatera Barat?.
Bang Irman (begitu saya memanggilnya), menyampaikan kegelisahan yang kelihatannya, sudah lama beliau bawa. Sumatera Barat tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan sumber daya alam. Tidak kekurangan nama besar di tingkat nasional. Yang kurang adalah ketepatan arah yang dipilih dengan sadar, lalu dikerjakan secara konsisten.
Dari percakapan itulah tulisan ini lahir.
Saya ingin mengajukan satu jawaban yang mungkin terdengar sederhana. Kita belum berani memilih identitas. Kita ingin menjadi segalanya bagi semua orang, lalu berakhir tidak menjadi apa-apa bagi siapa pun.
Padahal identitas itu sudah ada di depan mata. Sumatera Barat adalah provinsi yang agamis. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah bukan sekedar semboyan di gerbang kota. Itu cara hidup yang mengatur surau, sawah, dan pasar sekaligus. Di sinilah keunggulan yang tidak bisa ditiru daerah lain.
Dunia sedang bergerak ke arah itu. Pemerintah menargetkan potensi 262 juta perjalanan wisata muslim global menjelang 2030, dengan perkiraan belanja sekitar 310 miliar dolar Amerika. Ini bukan pasar ceruk. Ini salah satu segmen pariwisata yang tumbuh paling cepat di dunia.
Sumatera Barat pun bukan pendatang baru. Dalam Indonesia Muslim Travel Index 2025, provinsi kita berada di peringkat kedua nasional, naik dari peringkat ketiga pada 2023. Kita hanya kalah dari Jawa Barat. Kita juga meraih penghargaan Best Communication. Pada Juli 2026, Kementerian Pariwisata menetapkan Sumatera Barat sebagai salah satu dari 15 provinsi yang dikembangkan sebagai destinasi wisata ramah muslim.
Dan dukungan itu bukan hanya di atas kertas kebijakan.
Pada perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia bulan ini, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana secara terbuka mengangkat budaya Minangkabau dalam rangkaian karnaval kemerdekaan. Kebudayaan kita ditampilkan bukan di panggung daerah, melainkan di hadapan publik nasional pada momen paling simbolik yang dimiliki republik ini.
Sebagian orang mungkin menganggapnya seremonial belaka. Saya melihatnya berbeda.
Ketika seorang menteri memilih menampilkan satu kebudayaan daerah di panggung sebesar itu, ia sedang mengirim sinyal ke mana perhatian nasional akan diarahkan. Sinyal seperti ini tidak datang setiap tahun. Ada banyak provinsi yang bertahun-tahun menunggu giliran untuk dilirik pusat.
Maka pertanyaannya sekarang berpindah. Bukan lagi apakah pemerintah pusat mendukung, karena dukungan itu sudah diberikan secara terang-terangan. Pertanyaannya adalah apakah kita di daerah siap menangkapnya, atau membiarkannya lewat begitu saja seperti banyak peluang sebelumnya.
Modalnya ada. Pengakuannya ada. Dukungan pusatnya ada. Yang belum ada adalah keberanian daerah menjadikan pariwisata syariah sebagai strategi utama, bukan program tahunan satu dinas.
Perlu saya luruskan lebih dulu satu salah paham yang sering muncul. Pariwisata syariah bukan berarti mengusir wisatawan non-muslim. Bukan pula memaksakan aturan agama kepada tamu. Konsepnya sangat praktis. Tamu muslim dipastikan menemukan makanan halal yang terjamin, tempat salat yang layak, kamar yang bersih, fasilitas yang menghormati privasi, dan pelayanan yang tidak membuat mereka canggung.
Semua itu tidak merugikan siapa pun. Restoran bersertifikat halal tetap bisa dinikmati tamu dari Australia. Musala bandara yang bagus tidak mengganggu penumpang Prancis. Standar kebersihan, kejujuran bahan, dan keramahan yang dituntut wisata halal justru menaikkan mutu layanan kita untuk semua tamu.
Sekarang saya ingin mengajak pembaca melihat satu peluang yang selama ini terbentang di depan hidung kita tanpa pernah sungguh-sungguh dijemput.
Peluang itu bernama Kuala Lumpur.
Sepanjang 2025, Malaysia menerima lebih dari 42,2 juta kunjungan wisatawan internasional, naik sekitar 11 persen dari tahun sebelumnya. Tahun 2026 ini mereka menggelar Visit Malaysia Year dengan lebih dari 300 acara dan menargetkan 43 juta kunjungan atau lebih.
Yang lebih menarik lagi, Malaysia sedang menggarap pasar Timur Tengah dengan sangat agresif. Mereka menargetkan lebih dari dua juta wisatawan Arab pada 2026. Angka itu ambisius, karena tujuh negara Timur Tengah baru menyumbang sekitar 163 ribu kunjungan pada 2025. Tetapi arah anginnya jelas. Kuala Lumpur sedang membangun dirinya sebagai gerbang utama wisatawan Teluk di Asia Tenggara.
Sekarang bandingkan dengan angka kita. Sepanjang semester I 2026, kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat hanya 37.170 orang, turun 13,86 persen dibanding tahun lalu. Dari jumlah itu, 26.108 orang berasal dari Malaysia. Lebih dari tujuh dari sepuluh tamu asing kita datang dari satu negara saja.
Dua data ini, kalau disandingkan, sebenarnya sedang menunjukkan jalan.
Wisatawan Timur Tengah yang kita impikan itu sudah terbang ribuan kilometer dan mendarat di Kuala Lumpur. Mereka sudah berada di sisi lain Selat Malaka. Jarak dari Kuala Lumpur ke Padang kurang dari satu setengah jam terbang. Lebih dekat daripada Jakarta ke Denpasar.
Kita tidak perlu bersaing dengan Malaysia untuk merebut mereka. Kita hanya perlu menawarkan tambahan tiga sampai empat hari.
Inilah yang disebut strategi perpanjangan perjalanan. Tamu dari Jeddah, Riyadh, Dubai, atau Doha yang sudah menghabiskan seminggu di Kuala Lumpur ditawari satu pengalaman yang tidak bisa diberikan kota itu. Udara sejuk pegunungan. Air terjun yang mengalir sepanjang tahun. Lembah hijau yang terhampar. Sawah bertingkat. Danau yang luas dan tenang.
Bagi orang yang tumbuh di negeri gurun, pemandangan seperti Lembah Harau, Ngarai Sianok, dan Danau Maninjau bukan sekedar indah. Itu pengalaman yang benar-benar asing dan karena itu berkesan.
Ada tiga alasan mengapa pasar ini sangat cocok untuk Sumatera Barat.
Pertama, mereka datang beramai-ramai dalam satu keluarga besar. Kakek, nenek, anak, menantu, cucu. Rombongan besar berarti kamar lebih banyak dan makan lebih banyak.
Kedua, mereka tinggal lebih lama. Musim panas di Teluk berlangsung berbulan-bulan dan banyak keluarga memilih menghabiskannya di Asia Tenggara. Satu keluarga yang tinggal sepuluh hari jauh lebih berharga daripada sepuluh tamu yang datang sehari lalu pulang.
Ketiga, kebutuhan mereka justru sudah kita penuhi tanpa perlu usaha khusus. Makanan di Sumatera Barat halal secara alami. Musala ada di mana-mana. Azan terdengar lima kali sehari. Bagi tamu Teluk, kenyamanan seperti ini adalah barang mahal di banyak destinasi dunia.
Jembatannya pun sudah mulai dibangun kembali. Sejak 22 Juni 2026, Batik Air Malaysia kembali melayani rute Padang menuju Kuala Lumpur sebanyak empat kali seminggu. Ini kabar baik. Tetapi empat kali seminggu masih terlalu tipis untuk menampung strategi perpanjangan perjalanan. Agen perjalanan di Kuala Lumpur sulit menjual paket yang penerbangannya tidak tersedia setiap hari.
Maka pertanyaan yang harus kita jawab bukan lagi apakah peluang itu ada. Peluangnya jelas ada. Pertanyaannya adalah apa yang harus kita siapkan supaya tamu itu benar-benar datang, lalu pulang dengan cerita baik.
Ada delapan pekerjaan rumah yang menurut saya paling mendesak.
Pertama, perbanyak frekuensi penerbangan dan perlakukan Bandara Internasional Minangkabau sebagai bandara internasional yang sesungguhnya. Rute Padang menuju Kuala Lumpur perlu didorong menjadi penerbangan harian. Pemerintah daerah bisa menempuh skema penjaminan keterisian kursi pada tahun-tahun awal, seperti yang sudah dilakukan banyak daerah lain. Jam operasi bandara, kecepatan proses imigrasi, dan kejelasan layanan visa saat kedatangan sama pentingnya dengan jumlah pesawat.
Kedua, jual Sumatera Barat sebagai pelengkap Kuala Lumpur, bukan pesaingnya. Ini berarti bekerja sama langsung dengan biro perjalanan di Malaysia dan agen penjual di Arab Saudi serta Uni Emirat Arab. Buat paket gabungan yang harganya sudah pasti sejak awal. Manfaatkan pintu yang sudah dibuka Kementerian Pariwisata untuk hadir di pameran wisata di Riyadh, Jeddah, dan Dubai, dan bawa serta pelaku usaha kita, bukan hanya delegasi pejabat.
Ketiga, siapkan manusianya. Pemandu wisata berbahasa Arab di Sumatera Barat hampir tidak ada. Yang berbahasa Inggris dengan kemampuan layak pun terbatas. Padahal tingkat pengangguran terbuka Sumatera Barat pada Februari 2026 masih 5,51 persen, tertinggi ketiga di Sumatera, dan yang paling menganggur justru lulusan Diploma I sampai III sebesar 9,84 persen. Bandingkan dengan lulusan sekolah dasar ke bawah yang hanya 2,25 persen. Semakin terdidik semakin sulit bekerja. Pelatihan bahasa dan sertifikasi pemandu adalah jalan tercepat mengubah pengangguran terdidik menjadi tenaga kerja produktif.
Keempat, buktikan klaim halal dengan sertifikasi, bukan tulisan di kaca depan. Tamu dari Teluk sangat teliti soal ini. Rumah makan, hotel, dapur katering, dan biro perjalanan perlu didorong menuju sertifikasi yang diakui secara internasional. Kepercayaan sekali rusak akan sulit dibangun kembali.
Kelima, benahi hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Kebersihan toilet umum di destinasi. Pengelolaan sampah di sekitar danau dan air terjun. Pungutan liar di tempat parkir. Harga yang tiba-tiba naik ketika penjual tahu pembelinya orang asing. Hal-hal kecil inilah yang paling cepat menyebar lewat ulasan daring dan paling lama merusak nama baik.
Keenam, permudah cara mereka membayar. Kartu kredit internasional harus diterima di hotel dan restoran utama. Pembayaran melalui kode QR lintas negara perlu diperluas sampai ke pedagang kecil. Tamu yang mudah membelanjakan uangnya akan membelanjakan lebih banyak.
Ketujuh, sesuaikan produk dengan kebiasaan mereka. Sediakan penginapan berkapasitas keluarga besar, bukan hanya kamar untuk dua orang. Sediakan ruang yang menjaga privasi. Perpanjang jam layanan restoran sampai malam, karena banyak keluarga Teluk makan larut. Susun paket khusus untuk musim panas Juni sampai Agustus, ketika mereka paling banyak bepergian.
Kedelapan, jujur soal risiko dan siapkan mitigasinya. Sumatera Barat berada di wilayah rawan gempa dan longsor. Pariwisata adalah sektor yang paling cepat lumpuh ketika bencana datang. Jalur evakuasi yang jelas, informasi dalam bahasa asing, dan pelatihan bagi pengelola destinasi harus menjadi bagian dari perencanaan, bukan lampiran.
Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan. Setiap kamar hotel yang terisi seharusnya berarti beras, sayur, ikan, dan kopi Minang yang terserap. Kalau rantai pasok ini dibangun dengan sengaja, uang wisatawan tidak berhenti di kasir hotel. Ia mengalir sampai ke petani.
Saya tidak sedang mengatakan pariwisata syariah adalah obat mujarab. Tetapi di antara semua pilihan yang tersedia, inilah yang paling realistis dan paling jujur pada jati diri kita. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi Bali. Kita tidak perlu menunggu pabrik yang tak kunjung berdiri.
Di ujung diskusi kami waktu itu, Irman Gusman mengatakan satu hal yang terus saya ingat. Sumatera Barat tidak pernah kekurangan gagasan. Yang sering hilang adalah kesabaran untuk menuntaskan satu gagasan sampai berbuah.
Sekarang semua bahannya sudah tersedia. Budaya kita sudah dinaikkan ke panggung nasional oleh Menteri Pariwisata dan Menteri Kebudayaan. Jalur penerbangan ke Kuala Lumpur sudah dibuka kembali. Tamunya sudah duduk di ruang tunggu bandara di seberang selat sana.
Yang belum mereka dapatkan adalah undangan dari rakyat Sumatera Barat, jalan yang mudah menuju Sumatera Barat, dan sambutan yang hangat dari masyarakat Sumatera Barat.
*) Penulis adalah Staf Khusus Menteri Pariwisata RI / Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata dan Ekonomi Indonesia / Dosen Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti / Putra Daerah Sumatera Barat
